Wednesday, February 7, 2018

Manusia

Tentang manusia yang mulai dewasa.
Banyak kaki mereka yg terluka.
Banyak yg tidak juga.
Aku salah satu dari mereka.
Yg kesakitan saat melewati jalan yg sama.
Terciprat lumpur adalah hal yg biasa.
Jalan yg kulewati bukan jalan yg istimewa.
Jalan itu penuh lumpur, batu dan bara.
Bohong jika aku tak mengeluarkan air mata.
Rasa sakit disetiap melangkah selalu terasa.
Takut dan kalut tiba-tiba menjalar di dada.
Dari sekian manusia mengapa aku mengalaminya.
Rasa bersalah entah datang darimana.

Hal ini membuatku menutup diri.
Menyembunyikan segala jenis emosi.
Jangan ada orang yg melihat sisiku yg lain.
Yg akupun sendiri takut jika lepas kendali.
Ada diriku yang tak bisa ku kenali.
Sisi lain yang tak punya nurani.
Mengapa aku merasa sendiri?
Saat malam adalah saat aku merasa sepi.

Seperti terenggut oleh gelap.
Bahkan tidurku pun tak lelap.
Nafasku terasa sesak dan pengap.
Banyak pikiran2 yang hinggap.
Tak seperti dulu, tempat dihatiku begitu senyap.

Seseorang, tolong aku.
Ada sesuatu yang berontak tak terkendali.
Seolah berusaha mematikan hati.
Menghidupkan pikiran liar setiap kali.
Pikiran ingin membunuh dan ingin mati.
Aku ingin berhenti.
Namun dia tetap berusaha mendobrak sisi gelap ini.

Seseorang, selamatkan aku.
Dia berubah namun aku hanya membatu.
Dia orang lain dalam diriku.
Orang yang berbeda dari biasanya.
Saat aku menangis, dia tertawa.
Saat aku memaafkan, dia membencinya.
Dia memakan diriku setiap hari.
Setiap hari, dia perlahan menggerogoti.

Ingin ku mengatakan pada mereka.
Bahwa aku tidak baik-baik saja.
Aku seperti sendirian dalam gelap.
Meringkuk kedinginan.
Memohon sebuah pertolongan.
Tubuhku seperti menggigil ketakutan.

Aku ingin berhenti.
Segala yang terjadi membuatku ingin lari.
Topeng yang dikenakan orang2 membuatku muak setengah mati.

Manusia itu terbakar amarah.
Dan dia mengamukkannya pada manusia lain yg ingin menyerah.
Manusia bernada tinggi itu tak tau kalau hati manusia lain sedang susah.
Dia meluapkan emosinya tanpa tau manusia lain sedang bersumpah serapah.
Mengutuk, tak terima, tak ikhlas pada manusia bernada tinggi namun berhati sampah.
Mendengar ocehannya membuatku lelah.

Manusia yang tak penah tau seberapa besar usaha yg manusia lain lakukan.
Dia hanya tau bahwa manusia lain selalu melakukan kekeliruan.
Dia hanya tau bahwa dirinya benar dan tak berhak disalahkan.

Ya lakukan saja, seperti itulah meraka merasakan menjadi Tuhan.
Berjalan diatas tanah dengan penuh kesombongan.
Tak menghargai manusia lain yg bekerja demi dia mati-matian.

Tak taukah mereka bahwa hati yg lain terluka.
Tak dihargainya sebuah usaha.
Mereka tetap marah, tak mau tau dan menutup mata.
Dunia yang kejam ini mengubahku sepenuhnya.
Mengeraskan dinding hati dan membunuh sisi manusia.
Dan yang lebih parahnya lagi, diriku yg lain ingin menyakiti mereka.

No comments:

Post a Comment

Manusia

Tentang manusia yang mulai dewasa. Banyak kaki mereka yg terluka. Banyak yg tidak juga. Aku salah satu dari mereka. Yg kesakitan saat me...